Senin, 23 Maret 2015

Pendidikan Karakter Perspektif Pesantren




Oleh: Akbar arifin, S.Pd.I
Sebagaimana dikatakan para ahli, bahwa pendidikan Islam berupaya untuk mengembangkan semua aspek dalam kehidupan manusia yang meliputi spritual, intelektual, imajinasi, keilmiahan, baik individu maupun kelompok, dan memberi dorongan bagi dinamika aspek-aspek di atas menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup, baik dalam hubungannya dengan al-Khaliq, sesama manusia, maupun dengan alam.[1]Akan tetapi pada dataran operasional, rumusan-rumusan ideal yang dikemukakan di atas belum terjawab, sedangkan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren cukup variatif dalam berusaha menyelaraskan konsep-konsep tersebut.
Pesantren merupakan pusat transformasi ajaran Islam tertua di Indonesia dengan sistem lingkungan pendidikan yang integral. Menurut Agus Sunyoto, ada dua hal yang dilakukan sekaligus oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan. Pertama, proses pendidikan; dengan pendidikan pesantren melakukan  pembentukan karakter. Kedua, proses pengajaran; dengan proses pengajaran pesantren melakukan pengembangan nalar.[2] Sebagai lembaga pendidikan tertua, pesantren  sudah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren telah berkembang sejak delapan abad silam dan merupakan cikal bakal dari sistem pendidikan Tanah Air. Keberhasilan pesantren dalam melaksanakan tugas pendidikan tidak diragukan lagi.
Pesantren telah lama dikenal mengembangkan model pendidikan karakter. Pengajaran budaya ikhlas, kesederhanaan, kemandirian, gotong royong, mempertahankan kearifan budaya lokal dan tradisional, ukhuwwah Islamiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah basyariyyahmencerminkan semangat pendidikan karakter. Pesantren memiliki prinsip selalu mengedepankan budi pekerti tinggi, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta mengajarkan nilai-nilai kebenaran universal lainnya. Selain metode-metode pembelajaran yang khas dalam proses pendidikannya, gaya hidup pesantren yang spartan, melatih kemandirian santrinya.[3]
Di pesantren, santri lebih terawasi dalam pergaulan, teratur, dan seimbang dalam kegiatan belajar dan bermain.[4]  Selain itu, pesantren juga dikenal sangat ketat dalam mengontrol perilaku santri dan masyarakat agar selalu sesuai dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Motto yang paling populer yang menjadi dogma kuat santri, “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”, yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat.
Dalam bahasa pesantren, pendidikan karakter yang lebih populer disebut dengan istilah pendidikan akhlakmerupakan tujuan utama penyelenggaraan pendidikan. Bahkan, penddidikan akhlak menjadi variabel terpenting dalam pola pendidikan yang dikembangkan pesantren. Karena itu, tak heran dalam komunitas pesantren, kiai menjadi semacam “living curriculum” yang mengawasi perilaku anak asuhnya selama 24 jam. Kiai memiliki peran sentral dalam memantau perkembangan akhlak santri.
Ibn Miskawaih yang dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[5] Sementara Darasz mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam diri yang berkombinasi pada kecenderungan yang benar (akhlak baik) atau tindakan yang  jahat (akhlak buruk).[6]Akhlak juga bisa dimaknai sebagai bangunan jiwa yang bersumber darinya perilaku spontan tanpa didahului pemikiran, berupa perilaku  baik ataupun perilaku buruk.[7]
Meski akhlak bisa berarti perilaku atau sikap yang baik dan buruk atau positif dan negatif, akan tetapi dalam banyak perbincangan masyarakat sehari-hari kata “akhlak” hampir selalu memiliki konotasi baik dan positif, seperti kejujuran, ketulusan, kesabaran, rendah hati, kasih, keberanian, murah hati, santun, bertindak adil, menghargai orang lain dan sebagainya. Dalam teks-teks Islam, akhlak yang baik disebut al-Akhlaq al-Karimah.
Dalam Islam, akhlak menempati kedudukan yang penting dan dianggap memiliki fungsi vital dalam memandu kehidupan masyarakat. Akhlak Islam benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan fitrahnya. Prinsip akhlak Islam termanifestasi dalam aspek kehidupan yang diwarnai keseimbangan, realis, efektif, efesien, asas manfaat, disiplin dan terencana serta memiliki dasar analisis yang cermat. Tujuan akhir pendidikan akhlak ini dalam pandangan para ulama Islam klasik sebagian ulama adalah terbentuknya karakter positif dalam perilaku manusia.[8]
Untuk mencapai tujuan di atas, Islam menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia yang memiliki akhlak (budi pekerti) yang paling agung untuk dijadikan ukuran akhlak terbaik. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam QS. al-Qalam/68: 4.
 “Dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.[9]
Kualitas akhlak seseorang setidaknya dapat dilihat dari tiga indikator.[10]Pertama, konsisten antara yang dikatakan dengan yang dilakukan, dengan kata lain adanya kesesuaian antar perkataan dengan perbuatan. Kedua, konsisten orientasi, yakni adanya kesesuaian antara pandangan dalam satu hal dengan pandangannya dalam bidang lainnya. Ketiga,  konsisten dengan pola hidup sederhana. Dalam tasawuf, sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap kebajikan pada hakikatnya adalah cerminan dari akhlak yang mulia.
Ajaran akhlak senantiasa bersifat praktis, dalam arti langsung dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat. Ajaran akhlak yang bersifat antipatif terhadap kebutuhan perubahan, memiliki sejumlah prinsip yang lentur yang dapat mengarahkan warga masyarakat pada perubahan, misalnya adalah prinsip membawa manfaat. Prinsip inilah salah satu yang menjaga agar reaksi-reaksi sesaat yang umumnya negatif terhadap gagasan dan gaya baru, justru tidak mematikannya.
Jadi,berbagainilai-nilai yang tengah digali dan ditanamkan kembali oleh Kemendikbud melalui pendidikan karakter, sejatinya telah banyak diterapkan dalam pola pendidikan pesantren. Pesantren merupakan pola pendidikan yang sangat konsen dalam pengembangan pendidikan karakter.
Sebagai usaha yang identik dengan ajaran agama, pendidikan karakter (pendidikan akhlak) dalam pesantrenmemiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidikan karakter di dunia Barat. Perbedaan tersebut mencakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum memperkuat moralitas, perbedaan pemahaman tentang kebenaran dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku bermoral. Inti perbedaan ini  adalah keberadaan wahyu Ilahi sebagai sumber dan rambu-rambu pendidikan karakter dalam Islam, sehingga pendidikan karakter dalam Islam lebih sering dilakukan secara doktriner dan dogmatis.[11]
Jika kita harus menyimpulkan, maka akhlak, etika atau moral yang dianut pesantren mengandung nilai-nilai yang sepenuhnya bermakna kemanusiaan, baik dalam bentuknya yang dikesankan sebagai personal atau individual, seperti ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, dan rendah hati maupun dalam relasinya dengan individu atau komunitas yang lain, seperti penghargaan terhadap perbedaan berpikir, kebebasan mengekspresikan pendapat dan keyakinan, dan penghormatan terhadap persaudaraan universal.
Dari penjelasan di atas, dapat kita lihat bahwa pendidikan akhlak dalam Islam, yang sejak lama telah diaktualisasikan di lingkungan pesantren, mempunyai orientasi yang sama dengan pendidikan karakter yang sedang booming saat ini, yaitu pembentukan karakter. Perbedaan bahwa pendidikan akhlak di pesantren terkesan Timur dan Islam, sedangkan pendidikan karakter terkesan Barat dan sekuler, bukan alasan untuk dipertentangkan. Pada kenyataannya keduanya memiliki ruang untuk saling mengisi. Bahkan Lickona sebagai “Bapak” pendidikan karakter di Amerika justru mengisyaratkan keterkaitan erat antara karakter dan spiritualitas.
Dengan demikian, bila sejauh ini pendidikan karakter telah berhasil dirumuskan oleh para penggiatnya sampai pada tahap yang sangat operasional meliputi metode, strategi, dan teknik, sedang pendidikan akhlak sarat dengan informasi kriteria ideal dan sumber karakter baik, maka memadukan keduanya menjadi suatu tawaran yang sangat inspiratif. Hal ini sekaligus menjadi entry point bahwa pendidikan karakter memiliki ikatan yang kuat dengan nilai spiritualitas dan agama. 
Di Indonesia, terdapat puluhan ribu pesantren yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara dengan berbagai corak dan ciri khasnya. Kita berharap pesantren terus tumbuh dan eksis serta memberikan kontribusi lebih nyata dalam upaya bersama menanamkan pendidikan karakter di tengah masyarakat. Begitu pula dengan lembaga-lembaga pendidikan serta lembaga sosial lainnya, baik yang formal, non formal maupun informal. Semuanya harus ambil bagian dalam menanamkan pendidikan karakter. Lirik yang terdapat dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diciptakan W.R. Supratman, yaitu “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya” perlu kita gali dan internalisir kembali untuk mewujudkan harapan dan cita-cita masa depan bangsa yang lebih baik.


[1]HM. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan(Islam dan Umum)(Jakarta: Bina Aksara,1991), h. 15.
[2]Agus Sunyoto, Sejarah Pendidikan Pesatren dan bagaimana Pesatren Dihabisi Nalar Barat, Disajikan dalam Workshop Pondok Pesantren Global, 2005. Diselenggarakan Oleh Kaum Muda,tanggal 25-27September 2005.
[3]Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Cet. II; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), h. 182.
[4]Komaruddin Hidayat, “Kiai dan Pesantren” dalam Marwan Saridjo, Mereka Bicara Pendidikan Islam; Sebuah Bunga Rampai (Cet. I; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009), h. 7.
[5]Ibn Miskawaih, dalam Hamdani Hamid dan Beni Ahmad Saebani,Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Cet. I; Bandung: CV. Pustaka Setia, 2013), h. 43.
[6]Muhammad Abdullah Darraz, dalam Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Perspektif al-Qur’an (Cet. I; Jakarta: Rajawali Pers, 2012), h. 73.
[7]Al-Syarif Ali ibn Muhammad al-Jurjani, dalam Lanny Octavia dkk., Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren (Cet. I; Jakarta: Rumah Kitab, 2014), h. 11.
[8]Ibid.,.
[9]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Juz 1-30 Edisi Revisi (Surabaya: Karya Agung, 2006), h. 826.
[10]Abdul Madjid,Pendidikan Karakter Perspektif Islam(Bandung: Rosdakarya, 2011), h. 61.
[11]Ibid., h. 59.

Minggu, 22 Maret 2015

PERAN ANREGURUTTA AL-ALIMUL ALLAMAH AL-HAJ MUHAMMAD AS’AD AL-BUQISY SEBAGAI TOKOH PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN AS’ADIYAH SENGKANG KABUPATEN WAJO


Peran Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy Sebagai Tokoh Pendidikan Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang Kabupaten Wajo
Oleh: Zainal Arifin 
Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy adalah sosok yang dibesarkan dalam lingkungan ulama, yaitu kakek dan ayahnya adalah seorang ulama yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan pendidikan dalam perantauan, kakek dan ayahnya membuka lembaga pendidikan untuk orang-orang yang berasal dari luar Mekkah dari berbagai suku bangsa dan termasuk anak-anak penduduk Mekkah.[1]
Pada tahun 1347 H bertepatan bulan Desember 1928, dalam usia 21 tahun, Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy berangkat meninggalkan tanah kelahirannya Mekah menuju tanah kelahiran nenek moyangnya di Wajo Sulawesi Selatan. Kedatangannya ke Wajo disertai niat untuk memperbaiki masyarakat yang dilanda kerusakan moral dan akidah.[2]
Setelah Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy tiba di Sengkang, ia pun mulai mengadakan pendekatan kepada Arung Matowa, karena Prinsip Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy apabila hendak memperbaiki kerusakan dalam suatu daerah atau negara, haruslah dimulai dari atas, karena yang di bawah atau rakyat mudah mengikut apabila yang memberi contoh adalah orang yang berkuasa atau orang yang dihormati dan dicintai.[3]
Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy memulai usahanya dengan mengadakan pengajian di rumah tempat tinggalnya, setelah peserta didiknya bertambah banyak dan rumah Anregurutta tidak dapat lagi menampung jumlah murid, maka Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy berniat utuk membawa pendidikan yang diasuhnya keluar rumah dengan mengusahakan tempat di serambi masjid Sengkang yaitu pada tahun 1929 M. Perpindahan ini sekaligus mendapatkan peluang untuk melaksanakan keinginannya untuk mengadakan pembaharuan yaitu dari sistem halaqah ke sistem klasikal.
Pembaharuan yang dimaksudkan adalah adanya tambahan ilmu pengetahuan umum yang dipelajari bagi murid-murid yang mempelajari agama Islam, karena pada masa itu sekolah yang memberikan pelajaran umum hanyalah sekolah yang diasuh oleh Belanda. Jadi Anregurutta  al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy mengusahakan penggabungan dua macam kelompok ilmu yang selama ini dihiraukan pada pengajian yang menggunakan sistem halaqah, walaupun buku yang digunakan semuanya berbahasa Arab.[4]
Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy terus berfikir mencari metode yang efisien dan efektif untuk mendidik masyarakat.pada tahun 1357 H (1938M) beliau berhasil menerbitkan majalah pendidikan yang diberi nama al-Dzikra. Penerbitan majalah al-Dzikra ini cukup membantu dalam melancarkan dakwah Islam sampai ke pelosok-pelosok sekitar tiga tahun lamanya. Al-Dzikra berubah nama menjadi al-Mau’azah al-Hasanah pada tahun 1360 (1941).[5]
Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy dapat digolongkan pada tipe kepemimpinan paternalistik kharismatik. Kepemimpinannya yang paternalistik kharismatik ini dapat dilihat pada waktu Madrasah Arabiyah Islamiyah kedatangan guru senior dari luar negeri, seperti Sayyid Abdullah Dahlan Garut dari Mekkah dan Sayyid Ahmad Afifi dari Mesir. Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy mengajak mereka untuk menyusun kurikulum secara bersama-sama dan berusaha memadukan ide dan pendapat teman-temannya tersebut sehingga dapat menghasilkan suatu kesepakatan di antara mereka untuk menjadikan kurikulum MAI berupa gabungan antara kurikulum Dar al-Falah di Mekkah dan kurikulum Dar al-Ulum di Mesir sebagaimana yang mereka telah alami saat belajar pada kedua madrasah tersebut. Hal ini dapat terjadi karena mereka menganggap Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy adalah teman yang dituakan dan lebih senior dalam ilmu pengetahuan karena memiliki multi disiplin ilmu, seperti ilmu ‘arudh, falak, balaghah, mantiq, faraid, ulum al-Qur’an, ulum al-Hadits, ilmu fiqh, ushul fiqh dan ilmu tasawuf.[6]
Kepemimpinan yang dimiliki oleh Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy tumbuh dan berkembang melalui pengaruh generik yang dimilikinya, dan menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang disegani baik yang pro pembaharuan maupun tidak. Anregurutta sebagai pemimpin yang menyadari bahwa salah satu di antara sekian tugasnya adalah mengkoordinasikan pekerjaan dan tugas dari semua anggota dengan penuh rasa tanggung jawab dengan keyakinan bahwa kekuatan organisasi tergantung pada peartisipasi aktif setiap anggota dengan kemampuan memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh setiap anggotanya. Itulah juga sebabnya sehingga Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy memperlakukan teman-teman guru atau muridnya sebagai teman yang saling membutuhkan dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy menyadari bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang bersifat materi maupun non materi, lahiriyah dan bathiniyah. Dia adalah guru dan pemimpin yang dihormati dan disegani, mulai dari tingkat atas (Arung Matowa) sampai pada masyarakat biasa.[7]
Sebagaimana disebutkan oleh Sitti Salmiah Dahlan dalam bukunya Rihlah Ilmiah Anregurutta KH. Muhammad As’ad dari Haramain ke Wajo Celebes ketika melakukan wawancara dengan Anregurutta KH. Hamzah Badawi bahwa “guru-guru senior dan guru bantunya melaksanakan tugas yang dibagi-bagikan kepada mereka dengan baik, malah mereka menganggap bahwa tugas itu suatu kehormatan yang diberikan oleh Anregurutta sebagai guru yang menjadi panutan atau oleh pimpinan mereka.[8]
Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy sebagai pimpinan Madrasah Arabiyah Islamiyah Wajo memiliki tipe kepemimpinan yang dapat dikategorikan sebagai tipe paternalistik kharismatik sebagaimana yang disebutkan sebelumnya. Tipe kepemimpinannya ini dapat dilihat pada kemampuannya berperan aktif pada setiap permasalahan yang dihadapi. Anregurutta bukan tipe pemimpin yang otoriter yang memaksakan pendapatnya kepada murid-muridnya. Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy selalu berusaha menempuh cara yang bijaksana apabila memutuskan permasalahan yang berkaitan dengan Madrasah Arabiyah Islamiyah atau hubungan Madrasah dengan organisasi luar, dengan jalan musyawarah.[9]
Dalam mengelola Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy bukanlah pemimpin yang berperan sebagai pemain tunggal tetapi mampu melibatkan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Kedekatannya dengan Arung Matowa Wajo dan hubungannya yang terjalin baik dengan masyarakat, sangat memudahkan baginya untuk mengadakan musyawarah pada setiap program dan permasalahan yang dihadapinya. Orang-orang yang terlibat bersamanya bekerja tanpa harus dipaksa atau menunggu komando Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy. Murid-murid Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) memang bukanlah semuanya tergolong pada umur remaja seperti pesantren sekarang, tetapi sebagian dari mereka telah berumur dan telah menempuh pendidikan dasar pada pengajian di daerah mereka masing-masing berupa pengajian tradisional (mangaji tudang) yaitu pengajian yang biasa disebut dengan sistem halaqah.[10]
Anregurutta KH. Abduh Pabbajah menjelaskan bahwa peserta didik Madrasah Arabiyah Islamiyah pada umumnya terdiri dari orang yang telah dewasa dan ada di antara mereka yang telah memiliki ilmu dasar agama Islam sebelum mengikuti pendidikan di Madrasah Arabiyah Isamiyah Wajo. Mereka datang ke Sengkang untuk memperdalam ilmu agama Islam dari ulama yang berasal dari pusat agama Islam (Mekkah dan Madinah).[11]
Kemampuan dalam mengelola Madrasah Arabiyah Isamiyah bagi Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy tidak mengalami kesulitan karena telah memiliki pengalaman mengajar dan pengalaman sebagai sekretaris saat belajar ulum al-hadits di Madinah pada Sayid Ahmad al-Syarif al-Sanusi pada tahun 1347H/1928M. Pengalamannya di Madinah mendapat prioritas dari gurunya karena kemampuan dan kecerdasan yang dimliki oleh Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy, maka gurunya tidak hanya memberikan tugas sebagai katib tetapi juga mengajar sebagai guru bantu. Suatu penghormatan bagi murid pada saat itu apabila guru memberikan kepercayaan untuk melaksanakan tugas tertentu dalam pengembangan dan pemeliharaan ilmu.[12]
Sebagai ulama dan tokoh pendidikan yang mendirikan Pondok Pesantren As’adiyah, Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy dikenal sebagai tokoh yang mampu memanfaatkan situasi dan kondisi. Contohnya apabila ada ulama dari luar Sulawesi atau dari luar negeri yang datang berkunjung sebagai tamu untuk menyaksikan perkembangan Madrasah Arabiyah Islamiyah, maka para santri dan masyarakat dikumpulkan untuk mengikuti ceramah agama Islam, yang lazim disebut saat ini dengan ceramah umum dari dosen tamu. Ulama Timur Tengah dan ulama dari Johor Malaysia yang mengadakan kunjungan persahabatan ke Wajo, dimanfaatkan untuk memberikan kuliah umum dan mengajar di Madrasah Arabiyah Islamiyah selama berada di Sengkang Wajo. Ulama Timur Tengah ini juga diatur jadwal ceramahnya di Masjid Jami’ pada waktu itu. Ulama kesohor itu antara lain Sayid Abdul Aziz al-Yamani dari Yaman, Syekh Hasan al-Yamani dari Yaman, Syekh Muhammad Dahlan al-Mishri dari Mesir, Sayid Mahmud dari Madinah, Sayid Ibnu Juldan dari Mekkah, Sayid Sulaiman dari Mekkah, dan Syekh Firdaus dari Johor Malaysia.[13]
Kedatangan guru atau sebutan sekarang adalah dosen tamu itu cukup membantu mempromosikan Madrasah Arabiyah Islamiyah ke luar daerah Wajo, karena semua tamu yang berkunjung ke Wajo harus melewati beberapa daerah mulai dari Makasar sebagai ibu kota provinsi.[14]
Sebagai pimpinan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Anregurutta KH. Muhammad As’ad juga dapat digolongkan sebagai ulama yang kreatif dan produktif. Hal ini dapat dilihat dari hasil karyanya, yaitu menulis beberapa buku pelajaran untuk bahan pembelajaran bagi murid-muridnya dan sekaligus menjadi bahan bacaan bagi masyarakat.[15] Berikut kitab hasil karya Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy:
1.         Kitab al-Ibanat al-Bugisiyyah ‘an Sullam al-Diyanah al-Islamiyayah
2.         Kitab al-Aqa’id
3.         Kitab Izhar al-Haqiqiyyah
4.         Kitab Irsyad al-Ammah
5.         Kitab Sabil al-Sawab
6.         Kitab Mursid al-Shuwwam ila ba’d Ahkam al-Siyam
7.         Kitab al-Barahin al-Jaliyyah fi Isytirat Kawn al-Khutbat bi al-‘Arabiyyah
8.         Kitab al-Ajwibah al-Mardyyah ‘ala man Radd al-Barahin al-Jaliyyah fi Isytirat Kawn al-Khutbat bi al-‘Arabiyyah
9.         Kitab al-Qawl al-Maqbul fi Sihhat al-Isidlal ‘ala Wujub Ittiba’ al-Salaf fi al-Khutbah ‘ala al-Nahw al-Mansub
10.     Kitab Nibras al-Nasik fi ma Yahimm min al-Manasik
11.     Kitab  Sullam al-Usul
12.     Kitab Nail al-Ma’mul ‘ala Nazm Sullam al-Usul fi Usul al-Fiqh.
13.     Kitab al-Zakah
14.     Kitab Salah al-Raiyyat wa al-Ru’at fi Iqam al-Salat wa Ita’ al-Zakah
15.     Kitab Wasiyyat Qayyimah fi al-Haqq
16.     Kitab Hajat al-‘Aql ila al-Din
17.     Kitab al-Qawl al-Haqq
18.     Kitab al-Akhlaq
19.     Kitab Tuhfah al-Faqir
20.     Kitab al-Kaukab al-Munir, Nazm Usul Ilmi al-Tafsir
21.     Tafsir Juz ‘Amma
22.     Tafsir Surah at-Naba’
23.     Kitab al-Nukhbah al-Buqisiyyah fi al-Sirah al-Nabawiyyah
24.     Majalah al-Maw’izah al-Hasanah.[16]
Gerakan Pendidikan yang dirintis oleh Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy menandai munculnya zaman baru di daerah Wajo dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Ia menjadikan lembaga pendidikan sebagai wadah membina calon-calon ulama. Bahkan beberapa di antara calon ulama yang dibinanya telah menjadi ulama kenamaan setelah ia meninggal. Keulamaan mereka seperti juga gurunya, dibuktikan dengan kiprahnya di bidang pendidikan  dan dakwah. Mereka adalah KH. Abdurrahman Ambo Dalle mendirikan Darud Dakwah Wal-Irsyad (DDI) pada tahun 1938 di Barru, KH. Abdurrahman Pakkanna mengembangkan Yayasan Pendidikan Islam Ganra sejak taun 1950-an, KH. Daud Ismail mendirikan Yayasan Perguruan Islam di Beowe pada tahun 1961 di Soppeng, KH. Abdul Kadir Khalid, MA mendirikan Ma’hadud Dirasatil Islamiyah Wal Arabiyah (MDIA) tahun 1965 di Makassar, KH. Abduh Pabbaja mendirikan Pesantren di Pare-Pare, dan KH. Abdul Muin Yusuf mendirikan Pesantren Al-Urwatul Wutswa pada tahun 1974 di Sidrap. Meski KH. Junaid Sulaiman, pendiri Ma’had Hadits Biru bukan alumni As’adiyah, namun pendirian Pesantren tersebut tetap didukung oleh lepasan Pesantren As’adiyah.[17]
Pada waktu Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy meninggal dunia pada tahun 1952 ia sudah berhasil meletakkan dasar yang kuat bagi perkembangan pendidikan Islam di kawasan itu. As’adiyah telah menjadi pesantren inti  bagi perkembangan pesantren-pesantren lainnya, terutama dalam penyiapan calon-calon ulama yang pada gilirannya menjadi perintis berdirinya pesantren-pesantren lain di Sulawesi Selatan.[18]
Demikianlah Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy sebagai tokoh pendidik yang selama hidupnya berjuang tanpa pamrih melalui lembaga pendidikan yang didirikannnya. Hingga akhirnya beliau mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia yang menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Nararya yang dikeluarkan pada tanggal 13 Agustus tahun 1999 berdasarkan Undang-undang No. 6 Tahun 1959, dan Keppres RI No. 076/TK/Tahun 1999. Penghargaan Pemerintah terhadap Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy sebagai tokoh Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan, walaupun hanya diterima oleh ahli warisnya, dapat dikategorikan sebagai tokoh pendidikan Islam di Indonesia yang perlu diangkat namanya sejajar dengan tokoh pendidikan Islam lainnya di Indonesia.[19] Meskipun Anregurutta al-alimul allama al-Haj Muhammad As’ad al-Buqisy telah tiada namun pesantren yang didirikannya menjadi saksi sejarah atas ketokohannya.[20]


[1]Sitti Salmiah Dahlan, Op., Cit., h. 84.
[2]ibid., h. 85.
[3]Ibid., h. 86.
[4]ibid., h. 87.
[5]Ibid., h. 90-91.
[6]ibid., h. 128.
[7]Ibid.,
[8]ibid., h. 129.
[9]Ibid., h. 133.
[10]ibid.
[11]Ibid., h. 134.
[12]ibid., h. 135.
[13]Ibid., h. 137.
[14]ibid., h. 138.
[15] ibid., h. 23.
[16] M. Sabit AT, Op., Cit.,, h. 248-266.
[17]Abdul Kadir Ahmad, Ulama Bugis (Makassar : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, 2008), h. 308.
[18]Ibid., h. 309.
[19]M. Sabit AT, Op., Cit., h. 19.
[20]Matsuki HS, dan M. Ishom El-Saha, Intelektualisme Pesantren Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren (Jakarta: DIVA PUSTAKA, 2003), h. 282.